
MAKALAH
Sejarah Manusia Purba Di Indonesia
Diajukan Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Disusun Oleh
Kelompok
9
Ketua : Dandi Rizaldi
Ketua : Dandi Rizaldi
Anggota : Robby Rohmansyach
Jordi Alamsyah
Yusuf Mulyadi
Eka Ariska
Dini Sri Suci Rahayu
Syfa Ulynas Bahri
Dea Lestari
Desi
Pitri.
MADRASAH ALIYAH NEGERI KARAWANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah ini berjudul
“Perkembangan Kehidupan Masyarakat serta Perubahannya”. Makalah ini berisikan
tentang perubahan-perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu dalam
sejarah secara kronologis.
Dalam penulisan makalah
ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan
mendidik untuk perbaikan selanjutnya. Walaupun demikian penulis tetap berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya. Terima kasih.
Karawang, AGUSTUS 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………….. i
DAFTAR ISI…………………………………… ii
PEMBAHASAN………………………………… 1
1. PengertianManusia Purba
2.
Jenis-Jenis Manusia Purba
a) Meganthropus Paleojavanicus
b) PithecanthropuS
3. Corak Kehidupan Prasejarah Indonesia
dan Hasil Budayanya
4. Homo Sapiens
5. Jenis-Jenis Homo Sapiens
6. Kebudayaan Homo Sapiens
DAPTAR PUSTAKA …………………………. 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Manusia
Purba

Manusia yang hidup
pada zaman praaksara (prasejarah) disebut manusia purba. Tanah air kita
sudah dihuni manusia sejak jutaan tahun yang lalu. Fosil-fosil manusia purba
banyak ditemukan di Indonesia yaitu sejak jutaan tahun yang lalu terutama di
Pulau Jawa. Manusia purba adalah manusia penghuni bumi pada zaman prasejarah yaitu zaman
ketika manusia belum mengenal tulisan. Ditemukannya manusia purba karena
adanya fosil dan artefak. Fosil
adalah sisa-sisa organisme (manusia, hewan, dan tumbuhan) yang telah membatu
yang tertimbun di dalam tanah dalam waktu yang sangat
lama. Sedangkan artefak
adalah peninggalan masa lampau berupa alat kehidupan/hasil budaya
yang terbuat dari batu, tulang, kayu dan logam. Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan masih sangat bergantung
pada alam. Jenis-jenis manusia purba dibedakan dari zamannya yaitu :
- Zaman Palaeolitikum artinya zaman batu tua. Zaman ini ditandai dengan penggunaan perkakas yang bentuknya sangat sederhana dan primitif. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman ini, yaitu hidup berkelompok; tinggal di sekitar aliran sungai, gua, atau di atas pohon; dan mengandalkan makanan dari alam dengan cara mengumpulkan (food gathering) serta berburu. Maka dari itu, manusia purba selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain (nomaden) belum tahu bercocok tanam. Pada zaman ini alat-alatnya terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat tersebut adalah :
Kapak Genggam,
banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut
"Chopper" (alat penetak/pemotong)
Alat-alat dari tulang
binatang atau tanduk rusa : alat penusuk
(belati), ujung tombak bergerigi
Flakes,
yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan
untuk mengupas makanan. Alat-alat
dari tulang dan Flakes, termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kegunaan alat-alat
ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan
buah-buahan. Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan
Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan Pacitan dan
Ngandong.
- Zaman Mezolitikum artinya zaman batu madya (mezo) atau pertengahan. Zaman ini disebut pula zaman "mengumpulkan makanan (food gathering) tingkat lanjut", yang dimulai pada akhir zaman es, sekitar 10.000 tahun yang lampau. Para ahli memperkirakan manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa Melanesoide yang merupakan nenek moyang orang Papua, Semang, Aeta, Sakai, dan Aborigin. Sama dengan zaman palaeolitikum, manusia zaman mezolitikum mendapatkan makanan dengan cara berburu dan menangkap ikan. Mereka tinggal di gua-gua di bawah bukit karang (abris souche roche), tepi pantai, dan ceruk pegunungan. Gua abris souche roche menyerupai ceruk untuk dapat melindungi diri dari panas dan hujan.
Hasil peninggalan budaya manusia pada masa itu adalah berupa
alat-alat kesenian yang ditemukan di gua-gua dan coretan (atau lukisan) pada
dinding gua, seperti di gua Leang-leang, Sulawesi Selatan, yang ditemukan oleh Ny. Heeren Palm pada 1950. Van Stein
Callenfels menemukan alat-alat tajam berupa mata panah, flakes serta batu
penggiling di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo, dan Madiun. Selain itu, hasil
peninggalannya ditemukan di tempat sampah berupa dapur kulit kerang dan siput
setinggi 7 meter di sepanjang pantai timur Sumatera yang disebut
kjokkenmoddinger. Peralatan yang ditemukan di tempat itu adalah kapak genggam
Sumatera, pabble culture, dan alat berburu dari tulang hewan.
- Zaman Neolitikum artinya zaman batu muda. Di Indonesia, zaman Neolitikum dimulai sekitar 1.500 SM. Cara hidup untuk memenuhi kebutuhannya telah mengalami perubahan pesat, dari cara food gathering menjadi food producing, yaitu dengan cara bercocok tanam dan memelihara ternak. Pada masa itu manusia sudah mulai menetap di rumah panggung untuk menghindari bahaya binatang buas.
Manusia pada masa Neolitikum ini pun telah mulai membuat
lumbung-lumbung guna menyimpan persediaan padi dan gabah. Tradisi menyimpan
padi di lumbung ini masih bisa dilihat di Lebak, Banten. Masyarakat Baduy di
sana begitu menghargai padi yang dianggap pemberian Nyai Sri Pohaci. Mereka tak
perlu membeli beras dari pihak luar karena menjual belikan padi dilarang secara
hukum adat. Mereka rupanya telah mempraktikkan swasembada pangan sejak zaman
nenek moyang. Pada zaman ini, manusia purba Indonesia telah mengenal dua jenis
peralatan, yakni BELIUNG PERSEGI dan KAPAK LONJONG. Beliung persegi menyebar di
Indonesia bagian Barat, diperkirakan budaya ini disebarkan dari Yunan di Cina
Selatan yang berimigrasi ke Laos dan selanjutnya ke Kepulauan Indonesia. Kapak
lonjong tersebar di Indonesia bagian timur yang didatangkan dari Jepang,
kemudian menyebar ke Taiwan, Filipina, Sulawesi Utara, Maluku, Irian dan kepulauan
Melanesia. Contoh dari kapak persegi adalah yang ditemukan di Bengkulu, terbuat
dari batu kalsedon yang digunakan sebagai benda pelengkap upacara atau bekal
kubur. Sedangkan kapak lonjong yang ditemukan di Klungkung, Bali, terbuat dari
batu agats yang digunakan dalam upacara-upacara terhadap roh leluhur. Selain
itu ditemukan pula sebuah kendi yang dibuat dari tanah liat berasal dari Sumba,
Nusa Tenggara Timur. Kendi ini digunakan sebagai bekal kubur.
- Zaman Megalitikum artinya zaman batu besar. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme merupakan kepercayaan terhadap roh nenek moyang (leluhur) yang mendiami benda-benda, seperti pohon, batu, sungai, gunung, senjata tajam. Sedangkan dinamisme adalah bentuk kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki kekuatan atau tenaga gaib yang dapat memengaruhi terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam kehidupan manusia. Dari hasil peninggalannya, diperkirakan manusia pada Zaman Megalitikum ini sudah mengenal bentuk kepercayaan rohaniah, yaitu dengan cara memperlakukan orang yang meninggal dengan diperlakukan secara baik sebagai bentuk penghormatan.
Adanya kepercayaan manusia purba terhadap kekuatan alam dan
makhluk halus dapat dilihat dari penemuan bangunan-bangunan kepercayaan primitif.
Peninggalan yang bersifat rohaniah pada era Megalitikum ini ditemukan di Nias,
Sumba, Flores, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan, dalam bentuk
menhir, dolmen, sarkofagus, kuburan batu, punden berundakundak, serta arca.
1. Menhir adalah tugu batu sebagai tempat pemujaan;
2. Dolmen adalah meja batu untuk menaruh sesaji;
3. Sarkopagus adalah bangunan berbentuk lesung yang
menyerupai peti mati;
4. kuburan batu adalah lempeng batu
yang disusun untuk mengubur mayat;
5. Punden Berundak adalah bangunan
bertingkat-tingkat sebagai tempat pemujaan; sedangkan arca adalah perwujudan
dari subjek pemujaan yang menyerupai manusia atau hewan.
a)
Zaman Logam
Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat
alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal
teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik
pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat
dan lilin yang disebut a cire perdue.
Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul
golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini
dibagi atas:
A.
Zaman Perunggu
Manusia purba Indonesia hanya mengalami zaman
perunggu tanpa melalui zaman tembaga. Kebudayaan Zaman Perunggu merupakan hasil
asimilasi dari antara masyarakat asli Indonesia (Proto Melayu) dengan bangsa Mongoloid
yang membentuk ras Deutero Melayu
(Melayu Muda). Disebut zaman perunggu karena pada masa ini manusianya telah
memiliki kepandaian dalam melebur perunggu. Di kawasan Asia Tenggara,
penggunaan logam dimulai sekitar tahun 3000-2000 SM. Masa penggunaan logam,
perunggu, maupun besi dalam kehidupan manusia purba di Indonesia disebut masa
Perundagian. Alat-alat besi yang banyak ditemukan di Indonesia berupa alat-alat
keperluan sehari-hari, seperti pisau, sabit, mata kapak, pedang, dan mata
tombak.
Pembuatan alat-alat besi memerlukan teknik dan
keterampilan khusus yang hanya mungkin dimiliki oleh sebagian anggota
masyarakat, yakni golongan undagi. Di luar Indonesia, berdasarkan bukti-bukti
arkeologis, sebelum manusia menggunakan logam besi mereka telah mengenal logam
tembaga dan perunggu terlebih dahulu. Mengolah bijih menjadi logam lebih mudah
untuk tembaga dari pada besi.
B.
Zaman Besi
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi
dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan
besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur
besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain: mata kapak
bertungkai kayu, mata pisau, mata sabit, mata pedang, cangkul. Alat-alat
tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan
Punung (Jawa Timur)
2.2 Jenis-Jenis Manusia
Purba
Beberapa jenis manusia purba yang ditemukan di wilayah Indonesia
adalah sebagai berikut :
2.2.1 Meganthropus
Paleojavanicus

Meganthropus
paleojavanicus berasal dari kata-kata; Megan artinya besar,
Anthropus artinya manusia, Paleo berarti tua, Javanicus artinya dari Jawa. Jadi
bisa disimpulkan bahwa Meganthropus paleojavanicus adalah manusia purba
bertubuh besar tertua di Jawa. Fosil manusia purba ini ditemukan di daerah
Sangiran, Jawa tengah antara tahun 1936-1941
oleh seorang peneliti Belanda bernama Von
Koeningswald. Fosil tersebut tidak ditemukan dalam keadaan lengkap,
melainkan hanya berupa beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta gigi-gigi
yang telah lepas. Fosil yang ditemukan di Sangiran ini diperkirakan telah
berumur 1-2 Juta tahun.
Ciri-Ciri Meganthropus paleojavanicus :
Mempunyai
tonjolan tajam di belakang kepala.
Bertulang pipi
tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.
Tidak mempunyai
dagu, sehingga lebih menyerupai kera.
Mempunyai otot
kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat.
Makanannya
berupa daging dan tumbuh-tumbuhan.
2.2.2 Pithecanthropus

Fosil manusia purba jenis Pithecanthrophus adalah
jenis fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia.
Pithecanthropus sendiri berarti manusia kera yang berjalan tegak. Fosil
Pithecanthropus berasal dari Pleistosen lapisan bawah dan tengah. Mereka hidup
dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan Mereka sudah memakan segala,
tetapi makanannya belum dimasak. Terdapat tiga jenis manusia Pithecanthropus yang
ditemukan di Indonesia, yaitu
a)
Pithecanthrophus erectus,
b)
Pithecanthropus mojokertensis,
c)
dan Pithecanthropus soloensis.
Berdasarkan pengukuran umur lapisan tanah, fosil
Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia mempunyai umur yang bervariasi,
yaitu antara 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.
a)
Pithecanthropus
Erectus,
ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di
sekitar lembah sungai Bengawan Solo, Trinil, Jawa Tengah. Mereka hidup
sekitar
satu juta sampai satu setengah juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Erectus berjalan tegak dengan badan yang tegap dan alat pengunyah yang kuat. Volume otak Pithecanthropus mencapai 900 cc. Volume otak manusia modern lebih dari 1000 cc, sedangkan volume otak kera hanya 600 cc.
satu juta sampai satu setengah juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Erectus berjalan tegak dengan badan yang tegap dan alat pengunyah yang kuat. Volume otak Pithecanthropus mencapai 900 cc. Volume otak manusia modern lebih dari 1000 cc, sedangkan volume otak kera hanya 600 cc.

Pithecanthropus Erectus,
b)
Pithecanthropus mojokertensis,
disebut juga
dengan Pithecanthropus robustus. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Von
Koeningswald pada tahun 1936 di Mojokerto, Jawa Timur. Temuan tersebut berupa
fosil anak-anak berusia sekitar 5 tahun. Makhluk ini diperkirakan hidup sekitar
2,5 sampai 2,25 juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Mojokertensis berbadan
tegap, mukanya menonjol ke depan dengan kening yang tebal dan tulang pipi yang
kuat.
_Pithecanthropus
mojokertensis
c)
Pithecanthropus Soloensis,
ditemukan di dua
tempat terpisah oleh Von Koeningswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran
antara tahun 1931-1933. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang
kering.
Ciri-ciri Pithecanthropus :
Memiliki tinggi tubuh antara 165-180 cm.
Badan tegap, namun tidak setegap Meganthrophus.
Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc.
Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
Hidung lebar dan tidak berdagu.
Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar.
Makanan berupa tumbuhan dan daging hewan buruan.

Pithecanthropus soloensis,
2.3 Corak Kehidupan
Prasejarah Indonesia dan Hasil Budayanya
1.Hasil kebudayaan
manusia prasejarah untuk mempertahankan dan memperbaiki pola hidupnya
menghasilkan dua bentuk budaya yaitu :
Bentuk
budaya yang bersifat Spiritual
Bentuk
budaya yang bersifat Material
2. Masyarakat Prasejarah mempunyai kepercayaan pada kekuatan gaib
yaitu :
Dinamisme, yaitu kepercayaan
terhadap benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib. Misalnya : batu,
keris
Animisme, yaitu kepercayaan
terhadap roh nenek moyang mereka yang bersemayam dalam batu-batu besar, gunung,
pohon besar. Roh tersebut dinamakan Hyang.
3. Pola kehidupan manusia prasejarah adalah :
Bersifat
Nomaden (hidup berpindah-pindah),
yaitu pola kehidupannya belum menetap dan berkelompok di suatu tempat serta,
mata pencahariannya berburu dan masih mengumpulkan makanan
Bersifat
Permanen (menetap), yaitu pola
kehidupannya sudah terorganisir dan berkelompok serta menetap di suatu tempat,
mata pencahariannya bercocok tanam. Muali mengenal norma adat, yang bersumber
pada kebiasaan-kebiasaan
4. Sistem
bercocok tanam/pertanian
Mereka
mulai menggunakan pacul dan bajak sebagai alat bercocok tanam
Menggunakan
hewan sapi dan kerbau untuk membajak sawah
Sistem
huma untuk menanam padi
Belum
dikenal sistem pemupukan
5.Pelayaran
Dalam pelayaran manusia prasejarah sudah
mengenal arah mata angin dan mengetahui posisi bintang sebagai penentu arah
(kompas)
6.Bahasa
Menurut hasil penelitian Prof. Dr. H. Kern,
bahasa yang digunakan termasuk rumpun bahasa Austronesia yaitu : bahasa
Indonesia, Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia.Terjadinya perbedaan bahasa
antar daerah karena pengaruh faktor geografis dan perkembangan bahasa.
FOOD GATHERING
Ciri zaman ini adalah
:
Mata pencaharian
berburu dan mengumpulkan makanan
Nomaden, yaitu Hidup
berpindah-pindah dan belum menetap
Tempat tinggalnya :
gua-gua
Alat-alat yang
digunakan terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang dan tanduk rusa
Zaman ini hampir
bersamaan dengan zaman batu tua (Palaeolithikum) dan Zaman batu tengah
(Mesolithikum)
FOOD PRODUCING
Ciri zaman ini adalah :
Telah mulai menetap
Pandai membuat rumah
sebagi tempat tinggal
Cara menghasilkan
makanan dengan bercocok tanam atau berhuma
Mulai terbentuk
kelompok-kelompok masyarakat
Alat-alat terbuat
dari kayu, tanduk, tulang, bambu ,tanah liat dan batu
Alat-alatnya sudah
diupam/diasah
Zaman bercocok tanam
ini bersamaan dengan zaman Neolithikum (zaman batu muda) dan Zaman Megalithikum
(zaman batu besar)
2.4 Homo Sapiens

Homo
Sapiens
Homo Sapiens merupakan sebuah spesies
dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam sebuah
mitos, manusia seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi
kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka
dimasyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, serta berdasarkan
kemampuan mereka membentuk sebuah kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama
lain serta pertolongan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk budaya yang harus
membudayakan dirinya. Manusia sebagai makhluk budaya mampu melepaskan diri dari
ikatan dorongan nalurinya serta mampu menguasai alam sekitarnya dengan alat
pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini berbeda dengan binatang sebagai makhluk
hidup yang sama-sama makhluk alamiah, berbeda dengan manusia hewan tidak dapat
melepaskan dari ikatan dorongan nalurinya dan terikat erat oleh alam
sekitarnya.
Jenis manusia ini
termasuk manusia yang memiliki pikiran yang cerdas dan bijaksana. Dengan
daya pikirnya manusia dapat berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan pada masa
sekarang atau masa yang akan datang berdasar kan pertimbangan masa lalu yang
merupakan pengalaman. Pemikiran yang sifatnya abstrak merupakan salah satu
wujud budaya manusia yang kemudian diikuti wujud budaya lain, berupa tindakan
atau perilaku, ataupun kemampuan mengerjakan suatu tindakan. Manusia purba
jenis ini memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. Dibandingkan
manusia purba sebelumnya, homo sapiens lebih banyak meninggalkan benda – benda
berbudaya. Diduga, inilah yang menjadi nenek moyang bangsa – bangsa di dunia.
Ciri-ciri Homo Sapiens :
Tinggi tubuh 130-210 cm
berat badan 30 – 159 kg, dan volume otak 1350 –
1450 cc.
Otak lebih berkembang dari pada Meganthropus danpithecanthropus.
Otot kunyah, gigi, dan rahang sudah menyusut.
Tonjolang kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
Mempunyai ciri-ciri ras Mongoloid dan
Austramelanosoid.
2.5 Jenis-Jenis Homo Sapiens
Homo Sapiens adalah jenis manusia purba yang memiliki
bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. Mereka telah memiliki sifat
seperti manusia sekarang. Kehidupan mereka sangat sederhana, dan hidupnya
mengembara. Jenis kaum Homo Sapiens yang
ditemukan di Indonesia ada 2 yaitu:
1. Homo Soloensis (
Manusia dari Solo)
Fosil ini ditemukan pada tahun 1931 –
1934 oleh Von Koenigswald dan Wedenreich di desa Ngadong lebah Bengawan Solo.
Fosilnya berupa tengkorak menurut penelitian terrnyata Homo Soloensis
tingkatanya lebih tinggi di banding Pithecanthropus Erektus.
Ciri-ciri homo soloensis :
Otak kecilnya lebih besar dari pada otak kecil
Pithecanthropus Erectus.
Tengkoraknya lebih besar daripada Pithecanthropus
Erectus.
Tonjolan kening agak terputus di tengah (di atas
hidung).
Tinggi
badan antara 130 – 210 cm
Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc
Otot tengkuk mengalami penyusutan
Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna
2. Homo
Wajakensis
Fosil ini ditemukan pada tahun 1889 oleh
Eugene Dobois di desa
Wajak(
Tulung Agung) Jawa Timur. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak, rahang atas
dan rahang bawah tulang pah dan tulang kering. Homo Wajakensis golongan
homo Sapiens kelompok manusia purba maju dan terakhir. Dan ini membuktikan
bahwa Indonesia sejak 40.000 tahun yang lalu sudah didiami manusia sejenis Homo
Sapiens.
Ciri-ciri homo wajakensis :
Berbadan tegap
Mukanya tidak terlalu menonjol ke depan.
Hidung lebar dan bagian mulutnya
menonjol
Tengkoraknya lebih besar dibanding Pithecanthropus.
Dahinya agak miring dan di atas mata terdapat busur
kening yang nyata
Tenggorokannya sedang, agak lonjong, dan agak
bersegi di tengah-tengah atap tengkoraknya dari muka ke belakang
Tingginya sekitar 180 cm
Memiliki volume otak kecil, yaitu
sekitar 1000-2000 cc dengan rata-rata 1350-1450 cc.
Tinggi badang antara 130-210 cm, berat badan antara
30-150 kg.
Hidup antara 25.000-40.000 tahun yang lalu
Mampu membuat alat-alat dari batu dan tulang yang
masih sederhana.
2.6 Kebudayaan
Homo Sapiens
Hasil kebudayaan Homo sapiens adalah perkakas
yang terbuat dari batu dan zaman manusia mempergunakan perkakas dari batu
disebut Zaman Batu. Zaman batu terbagi dua tahap, yaitu: Zaman Batu Tua
(paleolithikum) dan Zaman Batu Baru (Neolithikum).
Zaman
batu tua berlangsung antara 300 ribu tahun sebelum masehi sampai 35 ribu tahun
sebelum masehi, yaitu dalam masa 2.650 abad lamanya. Meskipun manusia yang
hidup dan berkebudayaan Batu Tua dan berkembang dalam masa 2.650 abad itu,
kebudayaannya masih rendah, akan tetapi mereka termasuk dalam jenis Homo
Sapiens (manusia berbudaya) untuk membedakan dari makhluk-makhluk masa
sebelumnya.
Zaman
batu baru. Secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama kebudayaan homo sapiens
berangsur-angsur meningkat. Homo sapiens dapat membelah dan mengasah batu,
kemudian membentuk batu itu menjadi perkakas disesuaikan dengan keperluannya,
seperti kapak, ujung tombak, mata panah dan lain sebagainya. Secara
perlahan-lahan pula kebudayaan Batu Baru menyebar ke daerah-daerah yang
beriklim hangat di dunia
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.plengdut.com/2013/03/Manusia-Purba-Indonesia-yang-Hidup-pada-Masa-Praaksara.html
http://indonesiaindonesia.com/f/89905-manusia-purba-indonesia/
http://www.info-asik.com/2012/10/sejarah-manusia-purba.html
http://marhadinata.blogspot.com/2013/01/sejarah-manusia-purba-di-indonesia.html
http://smpn1sdk91bubun2013.blogspot.com/2013/03/sejarah-manusia-purba.html
http://yessicahistory.blogspot.com/2013/04/sejarah-manusia-purba-di-indonesia.html
http://zulfahmigo.blogspot.com/2013/01/manusia-purba-pithecanthropus-erectus.html
http://jagoips.wordpress.com/2012/12/28/kehidupan-manusia-pra-aksara/
0 komentar:
Posting Komentar